Sabtu, 28 Juni 2014

Cokelat

Sore itu di taman kota, Dimas dan Bella sedang berjalan pulang dari lelahnya mengadu nasib di tengah keramaian kota. Bella yang usianya baru lima tahun tampak lesu layaknya kain basah yang menjuntai, digendong oleh seorang anak laki-laki. Seorang anak laki-laki yang usianya dua tahun lebih tua dari Bella. Entah siapa Dimas ini, yang jelas ia bukan kakak kandungnya.
Di tengah perjalanan, Bella melihat seorang pemuda yang sedang memakan cokelat. Pemuda yang yang duduk di bangku taman itu terlihat begitu menikmati cokelatnya.
“Kak, cokelat rasanya apa?” kata Bella.
“Cokelat itu rasanya manis, tapi bisa bikin gigi kita jadi sakit”, jawab Dimas mencoba menakut-nakuti Bella.
“tapi Kak, Bella mau cokelat”, kata Bella.
“iya nanti kakak beliin coklat buat Bella”, kata Dimas dengan wajah kesal.
“Kak, Bella mau coklat yang itu”, kata Bella sambil menunjuk cokelat yang sedang dimakan oleh pemuda itu.
“Bella, dengerin. Itu cokelat orang lain. Kita gak boleh minta-minta selagi kita masih bisa mencari uang untuk membelinya” kata Dimas mencoba menasehati Bella.
Bella merengek-rengek ingin cokelat yang sedang dimakan oleh pemuda itu. Yah, memang cokelat yang sedang dimakan oleh pemuda itu bukan cokelat yang biasa ada di warung-warung pinggir jalan. Pantas saja jika membuat ngiler orang-orang yang melihatnya.
Dimas berusaha mengalihkan perhatian Bella. Tak kuat mendengar rengekan Bella, akhirnya Dimas menurunkan Bella dari gendongannya. Ia dudukkan Bella di bangku taman dekat pemuda itu duduk. Dimas mencoba menenangkan tangisan Bella.
“Sudah ya, jangan nangis lagi. Bella tunggu di sini, kakak mau beliin cokelat itu buat Bella”, kata Dimas sambil memberikan gitar kecilnya yang dipegangnya kepada Bella.
Dengan sedikit resah Dimas meninggalkan Bella. Ia berjalan menuju supermarket dekat taman. Sambil berjalan, ia mengeluarkan bungkus permen yang isinya uang receh hasil mengamen hari ini. Sungguh teriris hatinya ketika melihat semua uang recehnya. Tak cukup rasanya uang yang ia miliki jika harus ditukarkan dengan sebatang cokelat itu.
Ia berdiri di samping pintu kaca supermarket itu. Cukup lama dia berdiri di sana. Hingga ia melihat seorang ibu yang sedang kerepotan membawa barang belanjaannya.
“Boleh saya bantu bawa, Bu?” kata Dimas.
“Oh iya nak tolong bawakan ini ke mobil ibu yang di sana”, jawab ibu tersebut sambil menunjuk mobilnya.
Dimas sangat bersemangat membantu ibu itu. Namun saat hendak mengangkat belanjaan ibu tersebut, ia melihat sebatang cokelat yang dibungkus oleh kemasan yang sama dengan cokelat yang dimakan oleh pemuda tadi. Ia pun teringat lagi pada Bella.
“… tapi Bu, saya harus…”, kata Dimas terputus-putus.
“Ayo nak cepat, tolong bawa ke sini”, kata ibu tersebut dari dekat mobil.
Dimas pun membawa belanjaan itu menuju mobil ibu tersebut. Setelah semua barang belanjaan dimasukan ke dalam mobil, ibu tersebut mengeluarkan uang receh untuk upah Dimas. Namun, Dimas tidak langsung menerimanya. Ia malah ikut-ikutan mengeluarkan uang receh dari dalam bungkus permennya.
“Bu, saya tidak mau uang ibu. Boleh tidak saya minta cokelat yang ada di kantong belanjaan yang tadi saya bawa?” kata Dimas dengan memelas.
Ibu tersebut tersenyum dan mengambil cokelat itu dari kantong belanjaannya.
“Ini cokelatnya, tapi ingat selagi kamu bisa berusaha untuk mendapatkannya jangan kamu minta-minta ya. Dan satu lagi, ini tolong terima uang dari ibu, karena sedikit apapun pekerjaan seseorang tetap harus dibayar. Kamu paham, Nak?” kata ibu tersebut.
“i..iya Bu. Terima kasih” jawab Dimas.
Betapa malunya Dimas mendengar perkataan ibu itu. Kata-kata yang ia ucapkan pada Bella barusan, ternyata ia mendengarnya kembali dari ibu tersebut. Ya, mungkin cara yang Dimas lakukan itu salah. Tapi apalah daya, uangnya tidak akan cukup untuk mendapatkan cokelat itu. Meski ia harus berbohong pada Bella.
Cokelat yang diinginkan Bella, kini telah ada di tangan Dimas. Ia bergegas menghampiri Bella.
Setibanya di taman, alangkah kagetnya Dimas, apa yang ia lihat bukanlah yang ia inginkan. Bella yang sedang duduk merengek-rengek di bangku taman, kini ia tersenyum ceria dengan wajah yang belepotan oleh cokelat. Terdengar dari jauh Bella berteriak.
“kak Dimas, cokelatnya enak, rasa stroberi loh. Aku…” teriakan Bella menjadi pelan dan terputus-putus karena yang ia lihat adalah wajah kemarahan Dimas yang mulai menghampirinya, “… mau lagi”, sambung Bella.
Sesekali pandangan Dimas pada pemuda yang duduk di taman. Ia melihat pemuda itu tidak memegang cokelat lagi. Yang ada hanya bungkusnya tergeletak di bawah bangku yang sedang Bella duduki.
“Heuh… Bella kamu dengerin kakak gak sih, sudah kakak bilang jangan meminta-minta. Apalagi meminta makanan yang sedang dimakan orang lain”, kata Dimas dengan marahnya.
Bella menangis mendengar kata-kata itu. Dimas pun ikut menangis sambil membersihkan wajah Bella.
“Bella, maafin kakak. Kakak memang tidak sanggup memberikan kamu cokelat itu. Tapi kakak pasti bisa untuk mencari uang lagi supaya dapat membelinya” kata Dimas dengan suara yang rendah.
Bella tak dapat bekata-kata. Air matanya membasahi baju Dimas yang sedang digunakan untuk membersihkan cokelat di wajahnya. Sebenarnya Bella ingin mengatakan sesuatu pada Dimas. Namun ia takut Dimas marah lagi.
“Sudah jangan nangis lagi. Ini kakak bawain cokelat yang Bella mau” kata Dimas masih dengan suara yang rendah.
Bella pun diam dan menerima cokelat yang dibawa oleh Dimas. Dimas membuka bungkus cokelatnya dan menyuapi Bella dengan hati-hati agar tidak belepotan. Bella tersenyum.
“Kak, cobain makan cokelatnya, enak loh”, kata Bella sambil mendekatkan potongan cokelatnya ke wajah Dimas.
Dimas pun ikut memakan cokelat itu.
“Iya enak. Udah ah, kakak gak terlalu suka cokelat. Ini buat Bella aja” kata Dimas.
Inilah salah satu kebohongan yang selalu dilontarkan oleh orang yang menyayangi kita. Dimas pun demikian. Dalam hatinya, Dimas juga ingin memakan cokelat itu. Sambil menunggu Bella menghabiskan cokelatnya, Dimas membuka kembali uang recehnya di dalam bungkus permen. Dihitungnya satu persatu dengan tambahkan uang yang diberikan ibu tadi.
“Kak, kok uangnya masih banyak. Kakak beli cokelat ini pake apa?” kata Bella.
Dimas kembali merasa malu. Berat bagi Dimas untuk mengakuinya kalau ternyata cokelat itu hasil minta dari ibu tadi.
“Udah jangan banyak tanya. Ayo habiskan. Jangan lupa sampahnya dibuang ke tong sampah”, jawab Dimas.
“iya, Kak”, kata Bella.
Cokelat pun habis dan Bella harus membuangnya ke tong sampah yang berada di dekat bangku tempat duduk pemuda itu. Bella terdiam di depan tong sampah itu dan tidak langsung membuang bungkus cokelat yang ada di tangannya. Rupanya ia tidak lagi melihat sisa cokelat yang sebelumnya ada dalam tong sampah itu.
“Maaf kak, coklat yang aku makan itu dari tong sampah ini”, ucapnya dalam hati.
Bella pun kembali ke bangku tempat ia duduk dan mengambil bungkus cokelat yang ada di bawah bangku itu dan kini Bella membawa dua bungkus cokelat untuk dibuang ke tong sampah tersebut.
“Bella, ayo pulang,” ajak Dimas.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

terimakasih atas komentar teman-teman, saya anggap semuanya adalah motivasi bagi saya agar menjadi lebih baik :)

Diberdayakan oleh Blogger.

SUBSCRIBE

Koleksi Gue

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "